Anakku Memanggilku Teteh

perempuan merenung
seorang ibu yang menyesal photo credit

Sudah beberapa kali handphoneku berdering, tapi aku tetap tidak menghiraukannya karena aku sedang sibuk berhadapan dengan clientku saat itu. Ketika aku merasa santai ku buka handphoneku, ada sebuah SMS masuk dari Ibuku. Beliau meminta ku untuk pulang karena Khalid, anakku, sudah seharian sakit demam.

SMS itu membuatku tersentak, kebetulan hari ini adalah hari Jumat, hari terakhir dimana aku bekerja, tapi sayang pekerjaanku diperusahaan ini membuat aku harus membereskan ini dan itu dulu sebelum pulang. Waktu menunjukan pukul enam sore, semuanya sudah selesai. Aku bergegas menuju kontrakanku dan berusaha bagaimana caranya agar aku bisa sampai kerumah Ibu di kampung dengan segera. Ya, perjalanan kesana cukup lama sekitar 4 jam, itupun bila di Jakarta tidak macet.

Sayang, Bus umum yang bisa mengantarku sampai rumah sudah habis, akhirnya kuputuskan untuk pulang besok pagi. Di pagi buta aku pun sudah berada di Bus dan meluncur menjenguk Khalid, putra semata wayangku yang dirawat oleh Neneknya, Ibuku.

Suara tangisan jelas terdengar ketika aku sudah dekat dengan rumah, segera ku masuk ke dalam rumah dan melihat Khalid sedang menangis, ya menahan rasa sakit demam dan pusing sepertinya. Ia belum bisa ku ajak berkomunikasi, sebab aku pikir usia 2 tahun memang belum begitu dapat diajak untuk berkomunikasi, apalagi sedang sakit. Yang sering kudengar adalah ia memanggil nenek dan nenek lagi.

Aku meminta Ibuku untuk mengompres Khalid dan memberikan sedikit obat penurun demam anak. Sesaat setelah itu, Khalid pun terlelap tidur, dengan aku ada disampingnya. Sesekali terdengar ia mengigau, memanggil sebuah nama, ya..nenek, itulah nama yang ia panggil.

Suhu badannya sepertinya mulai turun, dan bahagianya ketika ia terbangun tapi sepertinya ingin mengucap sesuatu… ya benar ia berucap.

“Teteh, mana nenek?” bagai petir di siang bolong, hancur hatiku kala anakku sendiri, anak yang ku perjuangkan hingga aku harus keluar kota mencari uang bersama suami kini memanggilku “teteh” (panggilan kaka perempuan di sunda).

Aku pun langsung mendekatinya dan berkata, “Ini bunda sayang, panggil bunda sayang”. Tangisku pun meledak dan sakitnya hatiku.

——-

Sahabat, kisah tadi bukan hanya sebuah cerita saja, dan bisa jadi pernah terjadi, atau pun sahabat juga pernah mengalaminya? mari kita kembali bertanya, untuk apa kita menjadi seorang ibu? untuk apa mencari uang banyak jika pada akhirnya anak kita lebih cinta kepada neneknya, kepada pengasuhnya, dan kepada orang-orang disekitarnya yang ia temui setiap hari.

Sahabat, anak kita adalah harta kita, kebanggaan kita, utamakanlah sebisa kita, jangan sampai kisah ini menimpa kita

Semoga dapat menjadi renungan untuk kita, betapa pentingnya kita untuk mereka dan betapa pentingnya mereka untuk kita. Hanya sekedar mengingatkan, tergantung bagaimana kita menyikapinya, apa yang diceritakan diatas nyatanya tidak mudah untuk kita laksanakan. Semoga Allah memudahkan.

Sumber #www.salamahzahra.com

#hikmah #parenting #sibuk #bekerja #anak #sakit #nenek #teteh

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *