Ayah Sebagai Pemilik Otoritas Aturan Dan Ibu Sebagai Pemberi Rasa Nyaman

anak bersama orangtua
keluarga bahagia photo credit

“ANJ*NG…BAB*…BANG*AT”

Sengaja kalimat itu saya sensor. Anda tentu sudah bisa memahami apa isinya. Itu bukan kalimat dari seorang pejabat populer di negeri ini yang lagi memarahi anak buahnya. Sama sekali bukan. Percaya atau tidak, kalimat itu berasal dari seorang remaja kepada ibu kandungnya. Sebut saja bunga. Bukan bunga citra lestari lho. Apalagi bunga bangkai. Dia mengamuk-ngamuk via akun facebooknya akibat laptop kesayangannya rusak kena air tumpahan dari ibunya. Dan meluncurlah segala jenis cacian kepada ibunya layaknya petugas kebun binatang yang sedang mengabsen penghuni satwa di dalamnya.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mereka bukan sedang mencari sensasi. Atau belajar akting untuk dapat tampil di TV. Kalau cuma mau masuk TV modalnya gampang kok. Tak perlu caci maki orangtua sendiri. Cukup bisa tepuk tangan, sedikit menggoyangkan pinggul dan menghentakkan kaki seraya meneriakkan yel “la la la..ye ye ye” berkali-kali. Itu sudah cukup meloloskan mereka sebagai penonton bayaran di stasiun TV. Dan jika mereka beruntung, bisa diajak tampil ke atas panggung oleh HOST sambil disiram air atau tepung. Tragis!

Tapi bukan itu inti pembahasan kita. Yang jelas, ketika seorang anak berani mencaci maki ibunya, itu pertanda hilangnya ikatan batin antara ibu dan anak yang dikenal dengan istilah mother distrust. Faktornya bisa macam-macam. Namun dari sisi pengasuhan ada dua hal yang bisa disorot :

Pertama, proses menyusui yang salah di saat anak berumur 0-2 tahun. Dimana si ibu hanya mampu memberikan asupan fisik saja berupa ASI kepada anak. Namun mengabaikan asupan psikis. Anak tak mendapatkan belaian dan dekapan yang cukup saat disusui. Tersebab ibu merasa tugasnya tertunaikan dengan memberi susu meski hanya lewat botol. Akibatnya fisik anak bisa jadi tumbuh subur namun jiwanya kerdil. Tak ada ikatan batin dengan ibunya. Badannya bongsor tapi kelakuan kayak bocah. Kata-katanya tidak jauh dari ‘Miapah? Macacih? Udah maem tiang belom?’ (Maksudnya sih makan siang). Helloww! Yang maem tiang mah ultraman!. Hadeuuh, Benar-benar seperti bayi. Tidak mempunyai jiwa empati kepada Ibunya. Saat ibunya kelelahan, ia cuek. Ibu bermuka masam karena marah, malah dipuji ‘Mama cool banget!’. Tak paham bahwa sungguh tersiksa batin Ibunya.

Faktor Kedua, mengambil peran ayah – dan ini yang akan kita bahas- yakni sebagai pemilik otoritas aturan. Ibu yang khawatir akan pengasuhan anaknya, biasanya cenderung memprotect anaknya dengan segudang aturan.
“JANGAN PULANG MALAM-MALAM!”
“JANGAN NONTON TV LAMA-LAMA!”
“JANGAN PAKAI BAJU GAMBAR HELLO KITTY. PAKAI SPONGE BOB AJA!”
“CUCI KAKI DAN TIDUR SEBELUM JAM 9”
“MAKAN SAYUR DAN BUAH!”
“JANGAN IKUT DEMO!”

Dan sederet aturan lainnya. Mulai dari yang berat sampai yang remeh seperti selera makan anak pun diatur. Dan inilah yang justru menjadi tren di kalangan ibu-ibu modern. Akibatnya fungsi dasar ibu dalam memberikan rasa nyaman pun hilang. Anak menjauh dan tak nyaman bersama ibunya. Sehingga lebih betah di luar bersama kawannya dan mudah terperosok dalam pergaulan yang rusak. Tak peduli apa kata orangtua.

Tapi jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa ibulah yang salah dalam hal ini. Saya katakan tidak. Ibu yang mengambil otoritas aturan dalam rumah tangga akibat dari fungsi ayah yang hilang. Sementara ibu dituntut untuk menjaga buah hatinya. Ditambah seringnya ibu yang menghadiri seminar parenting yang malah menambah was was karena pembicaranya banyak memberikan data-data yang mencemaskan. Maka jadilah ibu memprotect anaknya. Ayah tak mau tau dalam hal ini. Padahal tugas dasar ayah sebagai kepala sekolah adalah menegakkan aturan. Ayahlah sang pemilik aturan. Dan ibulah pusat rasa nyaman bagi anak.

Ayah yang tak mau menegakkan aturan dalam rumah pada dasarnya menzholimi si ibu juga anak. Membiarkan anak dengan kesalahannya dan mencabut fungsi dasar ibu sebagai pemberi rasa nyaman. Terlebih jika ayah ikut-ikutan menyalahkan sang ibu. Lengkaplah predikat ibu sebagai ‘musuh’ bagi anak. Ingat. Petaka pertama pengasuhan : ketika ibu tak lagi dicintai dan dirindukan oleh buah hatinya.

Maka, ayah harus pulang. Terlibat dalam pengasuhan. Tunjukkan otoritas dan ketegasan. Tapi tidak perlu bawa-bawa pentungan. Emangnya mau tangkap maling? Jangan biarkan ibu yang ambil alih fungsi ini. Biarlah anak merasa ayahnya galak dan tegas. Karena memang inilah the real father. Asalkan anak merasa nyaman dengan ibunya, itu lebih baik. Saat protes dengan keputusan ayah, ibulah yang menenangkan dan menguatkan.

Inilah keseimbangan dalam pengasuhan. Ayah sebagai pemilik otoritas aturan bertugas menjaga anak dari pengaruh buruk lingkungan. Dan ibu sebagai pemberi rasa nyaman menjadi daya pikat anak untuk selalu pulang. Tentu ayah yang tegas juga harus diimbangi dengan kelembutan dan kebaikan di sisi yang lain agar anak tidak trauma. Begitu juga ibu. Sesekali bolehlah ibu bawel asal jangan kebablasan. Kalaupun ibu mau tegakkan aturan, cukup dengan kalimat “Ingat gak, ayah bilang apa?”. Anak tahu bahwa aturan bukan dari ibunya tapi dari si ayah. Jika fungsi ayah serius dijalani, maka tak ada lagi kalimat resah dari si ibu : ‘pusiiiing pala barbie’. Sebab ayah telah kembali.

By #BendriJaisyurrahman

#parenting #ayah #ibu #otoritas #aturan #nyaman #anak #pulang #tegas #kelembutan #kebaikan

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *