“Jangan” Dalam Ilmu Parenting VS “Jangan” Dalam Ilmu Alquran

forbidden
larangan photo credit

1. Beberapa hari ini banyak yang tanya saya (lebih tepatnya ajak diskusi) seputar kata “jangan” dalam ilmu parenting dan Alquran

2. Sebagian ada yang mengatakan kata “jangan” sebaiknya dihindarkan diganti kata anjuran. Ini ajaran parenting

3. Sebagian yang lain justru mempertentangkan dengan berdalih bahwa alquran justru banyak memuat kata jangan. Apakah quran salah?

4. Ujung-ujungnya saling melabel. Seolah-olah ilmu parenting yang menolak kata “jangan” dianggap tidak islami, pro yahudi, dan sebagainya.

5. Nah, ini yang saya khawatirkan. Pertentangan yang berujung kepada labeling. Jangan-jangan ini disengaja. Eh kok pake kata “jangan”?

6. Bukannya sok bijak. Sebab orang sok bijak sok bayar pajak hehe.. Tapi bersikap ekstrim meskipun baik tidak sesuai sunnah nabi.

7. Hakikatnya, islam ini agama pertengahan (ad diinul wasath). Maka tindakan menyalahkan ilmu yang bersumber dari barat tanpa dicari akarnya juga tak tepat

8. Seolah-olah kalau parenting itu dari barat jelas-jelas salah. Langsung tertolak. Padahal kita sering makan dari barat semisal rendang dari sumatera barat ?#?eh?

9. Ilmu parenting pada dasarnya bagian dari ilmu “keduniawian” dimana rasul mengatakan “kalian lebih tau urusan dunia kalian”. Artinya silahkan inovasi

10. Tentu bukan berarti islam tak punya konsep dasar. Sama seperti ilmu kedokteran, parenting juga punya dasar ilmunya

11. Tapi Islam tak menolak inovasi dalam bidang kedokteran sebab berprinsip “hukum asal muamalah adalah boleh kecuali ada dalil yang melarang”

12. Maka, inovasi dalam kedokteran semisal operasi jantung, kemotherapi, dan cesar itu boleh kecuali yang jelas ada larangannya.

13. Sama juga dengan ilmu parenting. Muncul banyak inovasi yang tidak semuanya kita tolak kecuali dengan dalil yang tegas.

14. Mengenai kata “jangan” itu sendiri tak perlu kita cari dalih. Hal ini memang ada dalam alquran. So what?

15. Tentu sesuatu yang berada dalam alquran tak boleh diragukan. Ini wilayah iman (QS 2:2)

16. Namun, sesuatu yang ada dalam alquran tentu harus dilihat prakteknya dalam keseharian nabi. Sebab beliau sejatinya ‘penerjemah’ terbaik maksud dari alquran

17. Jika hanya berdasarkan quran tanpa lihat praktek nabi, hati-hati bisa terkecoh. Bisa-bisa malah aneh.

18. Sholat, contohnya. Dalam quran perintahnya hanya rukuk dan sujud (qs 48 : 29). Jika tanpa melihat rasul, maka kita akan anggap sesat orang yang iktidal atau duduk tahiyat

19. Begitu juga penggunaan kata “jangan” dalam quran. Kita harus dudukkan dalam konteks ilmu parenting yang dicontohkan Rasul

20. Itu artinya, mari kita tengok sejarah bagaimana sikap rasul kepada anak-anak? Dan kita akan dapati beberapa perlakuan yang “beda”

21. Sesuatu yang dilarang kepada orang dewasa ternyata dimaklumi bahkan dibolehkan kepada anak-anak

22. Jika orang dewasa dilarang main patung atau boneka, ternyata anak-anak boleh. Aisyah contohnya

23. Jika orang dewasa dilarang ngobrol atau bercanda dalam sholat. Maka khusus anak-anak semisal husein, main di punggung rasul bahkan dibiarkan

24. Bayangkan, kalau yang main di punggung itu Umar. Mungkin sudah rasul marahin

25. Bahkan ada seorang anak yang pipis di baju rasul, dibiarkan. Tak dilarang. Kalau itu sahabat? Mungkin udah dikeroyok sama yang lain

26. Karena itu, melihat penggunaan kata “jangan” dalam alquran tak boleh sembarangan. Ada patokan dan standarnya

27. Untuk anak kecil yang belum baligh tentu beda perlakuannya dengan orang dewasa

28. Bahkan sesama orang dewasa saja masih ada perlakuan yang beda. Contohnya orang badui yang pipis di masjid nabawi dibiarkan, tak dilarang

29. Kenapa? Karena orang badui itu tak tahu alias bodoh. Inilah hebatnya rasul. Bersikap berdasarkan konteks kejadian

30. Jadi ayat tak dikeluarkan serampangan. Indah betul Islam ini jadinya

31. Karena itu, sebagai panduan penggunaan kata jangan ada beberapa pembahasan yg lumayan panjang. Salah satu yang mau saya bahas disini yakni konteks usia

32. Minimal ada 3 konteks usia penggunaan kata jangan sesuai sikap nabi : untuk anak yang belum berakal, untuk anak yang sudah berakal dan untuk remaja atau dewasa

33. Untuk remaja atau dewasa rasul tak ragu untuk memberikan kata jangan jika memang membahayakan agama orang ini. Biasanya terkait akidah dan akhlak

34. Sementara untuk anak, rasul sikapnya beda. Rasul bedakan yang sudah berakal mana yang belum.

35. Caranya sesuai petunjuk rasul dalam urusan perintah sholat yaitu “jika sudah bisa bedakan kanan dan kiri”. Itu artinya sudah diajak berpikir

36. Nah, untuk anak tipe ini (bisa bedakan kanan dan kiri) kata larangan atau “jangan” dibolehkan.

37. Tapi lebih elok jika ditambah solusinya agar mereka tau apa yang harus dilakukan. Ingat mereka minim pengalaman

38. Hal ini dialami oleh Rafi’ bin Amr Al Ghifari yang punya hobi melempar kurma. Rasul melarangnya namun kasih solusi.

39. Solusinya adalah kalau mau makan kurma, yang jatuh di tanah, tak perlu dilempar. Indah kan?

40. Sementara untuk anak yang belum bisa berpikir, rasul tak melarang. Lebih banyak memberi tahu sikap yang tepat. Bahkan cenderung membiarkan

41. Yang dibiarkan rasul juga biasanya terkait dengan hal-hal yang berkaitan dengan eksplorasi skill.

42. Rasul bahkan memotivasi anak yang lagi main panah di mesjid dengan ucapan “teruslah memanah. Sesungguhnya kakek moyangmu ismail seorang pemanah”

43. Kalau anak sekarang main panah di masjid? Udah jadi rempeyek dihujat jamaah hehe

44. Makanya, yang kedua yang harus dipahami selain konteks objeknya juga konteks apa yang dilarang

45. Jika untuk eksplorasi skill hindari kata jangan. Agar anak termotivasi kembangkan potensi. Tapi untuk eksplorasi spiritual dan emosi silahkan pakai “jangan” dengan penjelasan

46. Contoh penjelasan dalam quran “jangan ikuti langkah syetan, syetan itu musuh nyata bagimu”

47. Lebih elok jika larangan ada penjelasan. Tentu ini pas bagi anak yang sudah berpikir.

48. Di masa rasul ada seorang anak yang saat makan berlari-lari. Rasul ucap : “nak, sebutlah Allah. Pakai tangan kananmu dan makan yang dekat denganmu”

49. Rasul tak keluarkan kata ‘jangan’ sebab anak ini butuh tindakan konkret apa yang harus ia lakukan saat itu

50. Kesimpulannya, gak perlu bersikap ekstrim. Parenting meski dari barat bisa jadi adalah hikmah kaum muslimin yang tercecer

51. So, buanglah sampah pada tempatnya ups.. maksudnya pakailah kata jangan pada konteksnya. Dan jangan ada Keributan Gara-Gara Kata “Jangan”.

52. Sekarang, silahkan cicipi jangan nya (alias sayur) .. 😀

By #BendriJaisyurrahman

#parenting #jangan #alquran #Rasulullah #janganekstrim

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *