Kau Pikir Dunia Ini Akan Ada Selamanya . . .?

renungan diri
kematian adlah kepastian photo credit

Di antara koridor yang suram dan dingin, tak sengaja berjumpa dengan orang-orang yang ramai mengerubungi satu jendela. Ramai memang, namun hening. Isak tertahan, gumam tergenggam. Seolah menanti ajakan tuk dipecahkan beriringan.

Di seberang sana, ibarat layar kaca dengan suguhan fragmen tanpa naskah, terbujur kaku sesosok lelaki muda dengan taksiran usia kurang dari 40 tahun. Matanya mendelik ke atas, mulut terbuka dengan nafas satu-satu. Ayat demi ayat mengalun syahdu.

Ia terbilang muda untuk memerankan karakter yang sudah digariskan sang Maha Sutradara. Orang-orang tersayang mulai gamang, alat pengukur jantung berbunyi menyebalkan. Bip.. Bip.. Bip.. Makin lama semakin pelan. Dokter pun angkat tangan, diikuti perawat yang siaga dengan administrasi yang siap ditandatangan.

Tinggallah aku termangu pada satu sisi pintu. Mereka-reka kehidupan yang berjalan begitu instan. Betapa jarak antara kelahiran dan kematian ternyata hanya sehasta, sedepa, bahkan sehembusan nafas belaka. Sesudah itu manusia pulas, tersisa jazad yang pias.

Jazad itu bisa saja aku atau kau.

Hey, apa sanggup kau menghalau maut? Sementara gigi satu per satu tercerabut, guratan keriput dan helai demi helai rambutmu memutih, tak juga sanggup kau cegah.

Kau bahkan pernah tak ada sebelum ayah bundamu dipertemukan, dan saat tiba masanya kau kembali tak ada, percayalah semua akan berjalan biasa-biasa saja. Siapa dirimu? Bahkan sejarah pun enggan melirikmu.

Maka mulailah khusyuk dalam alam fikir dan zikir. Sebab kesempatan tak menghampiri dua kali untuk sekadar menghamba pada Tuhan dan melebur pada kebajikan. Merugilah orang-orang bebal yang tak percaya ada kehidupan kekal yang butuh bekal.

Selamat Subuh….

By #ArhamRasyid

#renungan #subuh #hidup #tidak #selamannya #maut #sehasta #sedepa #keriput #khusyuk #zikir

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *