Nasehat Seorang Ayah Untuk Putrinya

lelaki duduk sendiri di tempat tidur
seorang ayah yang kesepian photo credit

Putriku…
Hari ini engkau pindah ke pangkuan dua tangan lelaki yang asing bagimu…
Malam ini engkau berada di bawah sebuah atap yang asing di rumah seorang lelaki yang belum kau kenal.

Malam ini Ayah berdiri di samping tempat tidurmu yang bersih, tapi Ayah tidak lagi mendapati lambaian rambut hitammu yang darinya tercium wangi kesucian dari atas bantal putihmu.

Saat ini air mata Ayah telah deras mengalir untuk pertama kalinya dalam hidup Ayah. Hari ini wajah Putri Ayah telah menghilang dari pandangan Ayah, untuk tinggal di rumah seorang lelaki asing yang Ayah tidak mengetahui kebaikan dan keburukannya. Ayah hanya mampu berdo’a agar Allah mengabulkan harapan Ayah agar suamimu menjadi lelaki yang baik untuk Putri Ayah.

Hari ini, hati dan perasaan Ayah teringat keluarga Ibumu saat mereka menyerahkan Putrinya kepada Ayah sedangkan mereka semua menangis. Dahulu Ayah mengira itu tangisan bahagia atau tangisan biasa saat mengiring pengantin. Ayah tidak tahu apa yang membuat mereka menangis kecuali pada hari ini baru Ayah mengerti sebagaimana Ayah sekarang menangis. Dan apa yang menyiksa hati Ayah pada saat ini adalah sama dengan apa yang menyiksa mereka saat itu. Juga apa yang mendera batin Ayah saat menyerahkan Putri Ayah kepada seorang lelaki asing maka itu pula yang pernah mendera batin mereka saat itu.

Dan sejujurnya wahai Putriku, andaikan saat menikahi Ibumu, Ayah memiliki perasaan sebagaimana perasaan Ayahnya, niscaya Ayah akan habiskan usia Ayah demi membahagiakan Ibumu sebagaimana Ayah senang bila suamimu juga akan menghabiskan usianya demi membahagiakanmu.

Putriku…
Saat inilah Ayah sangat menyesali waktu-waktu dimana Ayah mungkin pernah menyusahkan Ibumu, baik yang Ayah sengaja maupun tidak Ayah sengaja. Saat ini Ayah membayangkan masa depanmu, Ayah membayangkan dirimu bila suatu hari nanti tiba-tiba Putri Ayah berdiri di hadapan Ayah seraya berkata,
“Ayah, suamiku telah menyakitiku.”
Maka apa yang bisa Ayah perbuat?
Ayah hanya memohon kepada Allah agar tidak membalaskan kepadamu atas kesalahan yang mungkin pernah Ayah lakukan pada Ibumu. Sungguh Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih.

Sekarang Ayah akan nasehatkan padamu apa saja yang akan membuat suamimu merasa tenang dan tentram di rumahnya.

Wahai Putriku…
Seorang lelaki mencintai kemuliaan dan senang menampakkan keberhasilannya meskipun ia belum menjadi orang sukses. Maka janganlah sekali-kali engkau melenyapkan perasaannya akan kemuliaan dan keberhasilannya, hendaknya engkau menuntunnya dengan sikapmu yang bijak, lembut dan perilaku yang baik.

Wahai Putriku…
Seorang lelaki senantiasa bangga dengan istri yang mencintainya, maka hendaknya engkau bersungguh-sungguh selalu menampakkan rasa cintamu kepadanya di hadapan keluarganya dengan perasaan cinta yang khusus kepadanya.

Wahai Putriku…
Seorang lelaki senantiasa bangga di depan keluarganya bahwa ia telah memilih seorang istri yang mencintai dan menghormati mereka, maka muliakanlah keluarganya dan sambutlah mereka dengan sambutan yang baik.

Sesudah itu wahai Putriku…
Jika engkau dapati suamimu sedang marah, maka redakanlah kemarahannya dengan ketenanganmu.
Jika ia berbuat salah maka obati kesalahannya dengan kesabaranmu.
Dan jika ia ditimpa hari-hari yang sulit, maka jadikan dadamu tempat yang luas baginya agar ia mampu bangkit kembali.

Dan jangan engkau lupa wahai Putriku, dirimu adalah mahkota suamimu. Di tanganmulah engkau jadikan dirinya penuh gemerlap mutiara dan batu permata. Atau engkau menjadi duri yang membuat kepalanya dan kepala Ayahmu berdarah bila dirimu tidak menjaga kehormatanmu untuknya.

Wahai Putriku…
Taatlah pada suamimu laksana tanah, maka ia menjadi langit.
Jadikan dirimu sebagai tempat tinggal baginya maka ia menjadi tiang bagimu.
Jagalah pendengaran dan matanya agar ia tak mencium kecuali aroma wangimu, tak mendengar kecuali yang baik-baik darimu, dan tak melihat kecuali keindahan dirimu.
Dan jadikan dirimu sebagaimana apa yang disenandungkan seorang suami kepada istrinya,
“Khudzii minnil-‘afwa tastadiimii mawaddatii…wa laa tanthiqii fii tsauratii hiina agh-dhabu”
“Wa laa tuktsiris-syakwaa fa tadz-haba bil hawaa…fa ya’baaka qalbii wal quluubu taqlibu”
Ayah memohon kepada Allah agar senantiasa menjagamu dengan keridhaanNya, dan semoga seluruh cintaku senantiasa menyertai kalian berdua.

Wahai Putriku, sungguh…
Bila wanita dicipta sebagai burung, pastilah ia burung Merak.
Bila ia dicipta sebagai binatang, pastilah ia seekor rusa.
Bila ia dicipta sebagai serangga, pastilah ia kupu-kupu.
Dan bila ia dicipta sebagai manusia, pasti ia menjadi kekasih, permaisuri, dan seorang Ibu yang luar biasa.

Wahai Putriku,
Sungguh wanita adalah seindah-indah nikmat yang ada di muka bumi bagi lelaki.
Bila wanita bukanlah sesuatu yang agung, maka tak kan mungkin Allah menjadikannya bidadari Huurun ‘iin sebagai balasan lelaki di surga.
Saat ia kecil, ia telah membuka pintu surga bagi Ayah Ibunya.
Saat dewasa, ia menyempurna separuh agama suaminya.
Dan saat menjadi Ibu, surga ada pada ridhanya.

Dan sejujurnya, wahai Putriku…
Sungguh Ibumu adalah sebaik-baik wanita yang telah Allah anugerahkan untuk Ayahmu.
Bagi Ayah, Ibumu adalah wanita yang ada dalam kisah itu.
Semoga Putri Ayah selalu bahagia.

“Ayahmu”
Sumber #novel”hadiahcintadariIstanbul”

#nasehat #pernikahan #ayah #putri

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *