Untuk Para Ayah . . .

anak laki-laki yang berada dipundak ayahnya
keluarga bahagia photo credit

Saat lahir, ku lihat gelap benar kulit anak lelakiku, Lalu ku katakan pada ayahnya, “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”. Suamiku menjawab, “Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki, ingin seperti aku.”

Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

Ketika bayi kecilku berulang tahun yang pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah. Lalu ku katakan kepada suamiku, “Agar ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”

BEST SELLER ❤️️ Gamis Babydoll Balo, hanya 129ribu (CEK ALBUM INI) 😉 jangan sampai kehabisan ya! free ongkir by...

Posted by Debusana on Monday, January 4, 2016

Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya. Ide bagus itu.”

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia adalah Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh menjadi anak yang cerdas, persis seperti ayahnya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, ayahnya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang melanjutkan pendidikan S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad berulang tahun yang kelima, kami mengundang keluarga. Kami semua berdandan dengan rapi. Dan tibalah saat Ahmad menjadi bosan serta agak mengesalkan.

Tiba-tiba ia meminta naik ke punggung ayahnya. Entah apa yang menyebabkan ayahnya begitu marah, mungkin karena menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk bermain kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.

Badan Ahmad terhempas ditolak ayahnya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya tepat di hari ulang tahunnya yang kelima.

Sejak hari itu, Ahmad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang menantu dan seorang cucu.

Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berkata sambil tertawa-tawa lucu, “Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”. Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. “Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang membuatku merasa cemas. Akhirnya cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu.

Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Ia menangis dan tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Aku, wanita tua, antara ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini.

Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya. Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya, “Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”

Allahumma Shalii ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam. Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka. Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, “Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”

Aku memandang suamiku yang terpaku.

Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?
Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, ku bimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya membelai kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.
Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia.
Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.”

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya.

Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”

Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popok, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur padaMu

Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tanganMu.
Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu! Amin,

*Sepenggal Kisah Nyata Kehidupan Bunda Neno Warisman. Semoga Bermanfaat..

#hikmah #keluarga #cinta #kasih #sayang #lelaki #ayah #anak

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *